Selasa, 01 Juli 2014

bekerja sama dalam teamwork



BEKERJA SAMA DALAM TEAM(KELOMPOK)
A. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK KELOMPOK
PENGERTIAN KELOMPOK MENURUT BEBERAPA AHLI :
1. Menurut Homans (1950) : kelompok adalah sejumlah individu berkomunikasi satu dengan yang lain dalam jangka waktu tertentu yang jumlahnya tidak terlalu banyak, sehingga tiap orang dapat berkomunikasi dengan semua anggota secara langsung.
2. Menurut Merton, kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola yang telah mapan, sedangkan kolektiva merupakan orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai niai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peran.
3. Menurut Achmad S. Ruky, Kelompok adalah sejumlah orang yang berhubungan (berinteraksi) antara satu dan yang lainnya, yang secara psikologis sadar akan kehadiran yang lain dan yang menganggap diri mereka sebagai suatu kelompok.
4. Menurut  Muzafer Sherif, Kelompok  adalah kesatuan  yang terdiri dari dua atau lebih individu yang telah mengadakan interaksi sosial yang cukup intensif dan teratur, sehingga di antara individu itu sudah terdapat pembagian tugas, struktur dan norma-norma tertentu.
5. Menurut De Vito (1997) : kelompok merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil bagi semua anggota untuk berkomunikasi secara relatif mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apayang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggotanya.

KARAKTERISTIK KELOMPOK :
    Ada dua karakteristik yang melekat pada suatu kelompok, yaitu norma dan peran. Yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah tentang norma. Norma adalah persetujuan atau perjanjian tentang bagaimana orang-orang dalam suatu kelompok berperilaku satu dengan lainnya. Ada tiga kategori norma kelompok, yaitu norma sosial, prosedural dan tugas. Norma sosial mengatur hubungan di antara para nggota kelompok. Sedangkan norma prosedural menguraikan dengan lebih rinci bagaimana kelompok harus beroperasi, seperti bagaimana suatu kelompok harus membuat keputusan.


:

Beberapa ahli mengatakan bahwa dalam suatu kelompok terdapat ciri – ciri, yaitu :

1. Terdiri dari 2 orang atau lebih
2. Adanya interaksi yang terus menerus
3. Adanya pengembangan identitas kelompok
4. Adanya norma – norma kelompok
5. Adanya diferensiasi peran
6. Peran yang saling tergantung
7. Produktivitas bertambah atau meningkat

B. TAHAPAN PEMBENTUKAN KELOMPOK
 Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman (1965). Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah kosep ini dicetuskan.
-          Tahap 1 - Forming
    Pada tahap ini kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum saling percaya.
-          Tahap 2 - Storming
    Kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas-tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah yang harus mereka selesaikan. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasi ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula yang mandenk pada tahap ini.
-          Tahap 3 - Norming
    Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi masing-masing anggota untuk kelompok. 
-          Tahap 4 - Performing
     Kelompok dalam tahap ini dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling bergantung satu sama lainnya dan mereka saling respect dalam berkomunikasi.
-          Tahap 5 - Adjourning dan Transforming
     Tahap dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap mana pun ketika mereka mengalami perubahan.

C.  KEKUATAN TEAM WORK
      Teamwork atau kerja sama tim merupakan bentuk kerja kelompok yang bertujuan untuk mencapai target yang sudah disepakati sebelumnya. Harus disadari bahwa teamwork merupakan peleburan berbagai pribadi yang menjadi satu pribadi untuk mencpai tujuan bersama. Tujuan tersebut bukanlah tujuan pribadi, bukan tujuan ketua tim, bukan pula tujuan dari pribadi paling populer di tim.
      Dalam sebuah tim yang dibutuhkan adalah kemauan untuk saling bergandeng-tangan menyelesaikan pekerjaan. Bisa jadi satu orang tidak menyelesaikan pekerjaan atau tidak ahli dalam pekerjaan A, namun dapat dikerjakan oleh anggota tim lainnya. Inilah yang dimaksudkan dengan kerja tim, beban dibagi untuk satu tujuan bersama.
      Saling mengerti dan mendukung satu sama lain merupakan kunci kesuksesan dari teamwork. Jangan pernah mengabaikan pengertian dan dukungan ini. Meskipun terjadi perselisihan antar pribadi, namun dalam tim harus segera menyingkirkannya terlebih dahulu. Bila tidak kehidupan dalam tim jelas akan terganggu. Bahkan dalam satu tim bisa jadi berasal dari latar belakang divisi yang berbeda yang terkadang menyimpan pula perselisihan. Makanya sangat penting untuk menyadari bahwa kebersamaan sebagai anggota tim di atas segalanya.


D. IMPLIKASI MANAJERIAL

           Kesimpulannya Kelompok atau team merupakan sekumpulan individu yang cukup kecil dimana untuk berkomunikasi lebih mudah. Para anggota saling berhubungan satu sama lain dengan beberapa tujuan yang sama dan memiliki semacam organisasi atau struktur diantara mereka. Kelompok mengembangkan norma-norma, atau peraturan yang mengidentifikasi tentang apa yang dianggap sebagai perilaku yang diinginkan bagi semua anggota tersebut.
Dalam sebuah tim atau kelompok, tidak jarang terjadi silang pendapat antar anggota kelompok. Perselisihan bisa disebabkan oleh banyak hal, dan terkadang menimbulkan komunikasi yang kurang baik antar anggota. Kondisi ini tentu tidak sehat dalam meneruskan kerja tim yang dilaksanakan, karena dapat berpengaruh terhadap kualitas pekerjaan yang akan dihasilkan. Tim yang sehat akan berdampak positif pada kualitas pekerjaan yang dihasilkan, misalnya saja pekerjaan bisa selesai tepat waktu dan target pencapaian yang memuaskan. Tim yang sehat tidak lepas dari pengaruh pola kepemimpinan yang dijalankan oleh ketua kelompok.
Ketua tim/kelompok harus mampu meminilisir konflik yang ada dalam internal kelompok. Pengalaman menjadi anggota kelompok dalam kegiatan perkuliahan memberi banyak kesempatan bagi saya untuk mengenal secara lebih dekat rekan/teman yang tergabung dalam satu prodi yang sama. Dunia kampus yang cenderung individualis dalam beberapa hal mempengaruhi komunikasi sosial antar mahasiswa. Melalui pembentukan tim pada tugas kuliah diharapkan dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi kita sebagai manusia, karena kita bukan robot.
Kemampuan manusia sebagai mahluk individu tidak dapat diragukan, karena setiap manusia dibekali keterampilan dan potensi tersendiri. Pengelolaan potensi diri secara maksimal menghasilkan keunggulan diri dalam bidang-bidang terkait yang digeluti. Melalui kerjasama tim, setiap anggota kelompok “ditantang” untuk mengontrol kemampuan/keunggulan individualis untuk melebur dengan keunggulan anggotan tim yang lain. Tim/kelompok membantu kita untuk mendengar lebih banyak, bahkan dalam sehari terkadang sebuah tim akan menghabiskan waktu untuk mendiskusikan satu permasalahan saja.
Para ahli menyatakan bahwa keberhasilan organisasi akan semakin bergantung pada kerja tim daripada bergantung pada individual-individual yang menonjol. Tracy (2006) menyatakan bahwa, “Kerja tim merupakan kegiatan yang dikelola dan dilakukan sekelompok orang yang tergabung dalam satu organisasi. Kerja tim dapat meningkatkan kerja sama dan komunikasi di dalam dan di antara bagian-bagian perusahaan. Biasanya kerja tim beranggotakan orang-orang yang memiliki perbedaan keahlian sehingga dijadikan kekuatan dalam mencapai tujuan perusahaan”.
Pada pembentukan awal sebuah tim, belum terjadi gesekan persilangan pendapat yang signifikan, tahap ini masih berupa pengenalan. Memasuki tahap kedua fase storming, konflik mulai sering terjadi. Berdasarkan pengalaman, pemicu konflik pada tahap ini terletak pada penyerahan ide sepenuhnya pada satu orang saja. anggota lain merasa lebih suka mengerjakan daripada menyumbangkan ide.
Krisis ide menyebabkan anggota kelompok mudah berselisih paham. Namun perselisihan tersebut tidak berlangsung lama, pertemuan selanjutnya biasanya anggota kelompok mulai mereviev kemunduran yang telah terjadi, dan berusaha kembali untuk meningkatkan kualitas pekerjaan berdasarkan tanggungjawab yang diberikan.


·         Klasifikasi kelompok dan karakteristik komunikasinya.
Telah banyak klasifikasi kelompok yang dilahirkan oleh para ilmuwan sosiologi, namun dalam kesempatan ini kita sampaikan hanya tiga klasifikasi kelompok.
·         Kelompok primer dan sekunder.
Charles Horton Cooley pada tahun 1909 (dalam Jalaludin Rakhmat, 1994) mengatakan bahwa kelompok primer adalah suatu kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama. Sedangkan kelompok sekunder adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan tidak akrab, tidak personal, dan tidak menyentuh hati kita.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.
Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok primer adalah sebaliknya.Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.Kelompok keanggotaan dan kelompok rujukan.
Theodore Newcomb (1930) melahirkan istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group). Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administratif dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau untuk membentuk sikap.
Menurut teori, kelompok rujukan mempunyai tiga fungsi: fungsi komparatif, fungsi normatif, dan fungsi perspektif. Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya, untuk mengukur dan menilai keadaan dan status saya sekarang (fungsi komparatif. Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki-kerangka rujukan untuk membimbing perilaku saya, sekaligus menunjukkan apa yang harus saya capai (fungsi normatif). Selain itu, Islam juga memberikan kepada saya cara memandang dunia ini-cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa, dan orang yang saya temui (fungsi perspektif). Namun Islam bukan satu-satunya kelompok rujukan saya. Dalam bidang ilmu, Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) adalah kelompok rujukan saya, di samping menjadi kelompok keanggotaan saya. Apapun kelompok rujukan itu, perilaku saya sangat dipengaruhi, termasuk perilaku saya dalam berkomunikasi.
* Kelompok deskriptif dan kelompok preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980) membagi kelompok menjadi dua: deskriptif dan peskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Berdasarkan tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, kelompok deskriptif dibedakan menjadi tiga: a. kelompok tugas; b. kelompok pertemuan; dan c. kelompok penyadar. Kelompok tugas bertujuan memecahkan masalah, misalnya transplantasi jantung, atau merancang kampanye politik. Kelompok pertemuan adalah kelompok orang yang menjadikan diri mereka sebagai acara pokok. Melalui diskusi, setiap anggota berusaha belajar lebih banyak tentang dirinya. Kelompok terapi di rumah sakit jiwa adalah contoh kelompok pertemuan. Kelompok penyadar mempunyai tugas utama menciptakan identitas sosial politik yang baru. Kelompok revolusioner radikal; (di AS) pada tahun 1960-an menggunakan proses ini dengan cukup banyak.
Kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Cragan dan Wright mengkategorikan enam format kelompok preskriptif, yaitu: diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel, forum, kolokium, dan prosedur parlementer.

Kelompok dipandang dari segi persepsi
            Didasarkan pada persepsi dari para anggota kelompok,bahwa para anggota harus mengetahui hubungan mereka dengan anngota yang lain supaya mereka dapat dinamakan kelompok.dengan demikian,kelompok dipandang dari persepsi anggota diidentifikasi sebagai sejumlah orang yang melakukan interaksi dengan yang lain dalam suatu pertemuan tatap muka atau serangkaian pertemuan semacam itu.dalam pertemuan itu,tiap-tiap anggota menerima suatu kesan atau persepsi mengenai anggota yang lain yang sangat berbeda sehingga dia dapat segera atau kemudian memberikan reaksi kepada anggota yang lain sebagai individu,walaupun kesan itu merupakan ingatan bahwa anggota yang lain itu ada.

Jenis-jenis kelompok
Dalam organisasi apapun,pasti akan timbul kelompok didalamnya.hal demikian disebabkan adanya pencapaian tujuan yang memerlukan tugas-tugas tertentu yang harus dilaksanakan dan karyawan yang ditugaskan melaksanakan pekerjaan itu,kelompok karyawan yang ditugaskan pasa posisi mereka dalam organisasi dinamakan kelompok formal.sebaliknya,bila individu bergabung atas dasar sifat yang berbeda dari kegiatan yang disyaratkan organisasi.
1.kelompok formal
            Kebutuhan dari proses organisasi menimbulkan formulasi jenis-jenis kelompok yang berbeda-beda.secara khusus,ada dua kelompok formal,yaitu kelompok komando dan kelompok tugas.kelompok komando ditentukan oleh bagian organisasi,kelompok bawahan melaporkan kepada pemimpin tertentu,hubungan wewenang anatara manajer dan supervisor atau supervisor dengan bawahannya.
2.kelompok informal
            Kelompok informal adalah pegelompokkan secara terbagi yang orang berada didalam situasi kerja untuk memenuhi kebutuhan dari orang lain.




Referensi :
-          Buku perilaku organisasi
-          Buku perilaku dalam organisasi,PROF.DR.WIBOWO,S.E.,M.PHIL

Kamis, 15 Mei 2014

pengambilan keputusan dalam organisasi



Jenis-Jenis Keputusan Dalam organisasi

Ada beberapa jenis keputusan yang digunakan dalam setiap pemecahan masalah antara lain :
Definisi Keputusan menurut para ahli
Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu: ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan,ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik,dan ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan itu adalah  suatu cara yang digunakan untuk memberikan suatu pendapat yang dapat menyelesaikan suatu masalah dengan cara / tehnik tertentu agar dapat lebih diterima oleh semua pihak.

Bentuk-bentuk atau jenis-jenis  Keputusan :

- Keputusan Terprogram
Merupakan keputusan yang berulang dan telah ditentukan sebelumnya, dalam keputusan terprogram prosedur dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami organisasi. Keputusan terprogram memiliki struktur yang baik karena pada umumnya kriteria bagaimana suatu kinerja diukur sudah jelas, informasi mengenai kinerja saat ini tersedia dengan baik, terdapat banyak alternatif keputusan, dan tingkat kepastian relatif yang tinggi. Tingkat kepastian relatif adalah perbandingan tingkat keberberhasilan antara 2 alternatif atau lebih. Contoh keputusan terprogram adalah, aturan umum penetapan harga pada industri rumah makan dimana makanan akan diberi harga hingga 3 kali lipat dari direct cost.

- Keputusan Tidak Terprogram
Keputusan ini belum ditetapkan sebelumnya dan pada keputusan tidak terprogram tidak ada prosedur baku yang dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Keputusan ini dilakukan ketika organisasi menemui masalah yang belum pernah mereka alami sebelumnya, sehingga organisasi tidak dapat memutuskan bagaimana merespon permasalahan tersebut, sehingga terdapat ketidakpastian apakah solusi yang diputuskan dapat menyelesaikan permasalahan atau tidak, akibatnya keputusan tidak terprogram menghasilkan lebih sedikit alternatif keputusan dibandingkan dengan keputusan terprogram selain itu tingginya kompleksitas dan ketidakpastian keputusan tidak terprogram pada umumnya melibatkan perencanaan strategik.

Contoh:
Dalam suatu perusahaan jika kita mendapatkan suatu masalah maka, kita dalam mengambil sebuah keputusan untuk menyelesaikannya kita tidak boleh terburu-buru karena dapat menyebabkan kita mengambil atau memilih keputusan yang salah dan bahkan dapat membuat masalah semakin sulit. Oleh karena itu kita harus mempertimbangkan dengan baik dengan cara mencari informasi, memahaminya dengan baik, dan mendiskusikan keputusan kita dengan orang-orang yang ikut dalam perusahaan itu, agar keputusan yang kita ambil dapat diterima dengan baik dan dapat memecahkan masalah yang ada.

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN KEPUTUSAN :

Menurut Terry (1989) faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut:
1. hal-hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhitungkan dalam pengambilan keputusan
2.  setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi;
3.  setiap keputusan janganlah berorientasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain
4.  jarang sekali ada 1 pilihan yang memuaskan
5.  pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik
6.  pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang  cukup lama
7. diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk mendapatkan hasil yang baik
8.  setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu betul
9.  setiap keputusan itu merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.


Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut mempengaruhi pengambilan keputusan.
* Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih tingkah laku yang memberikan kesenangan.
* Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjective.
*Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang-orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbagai konsekuensinya.
*Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuanya dalam bertindak.
*Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antar satu orang keorang lainnya dapat mempengaruhi tindakan individual.
*Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.


IMPLIKASI MANAJERIAL PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Berikut macam-macam implikasi pengambilan keputusan :
1.Gaya pengambilan keputusan
Adalah suatu gaya pengambilan keputusan yang diambil berdasarkan dari dirinya sendiri.

2.Gaya Direktif (Pengarahan)
adalah Suatu gaya pengambilan keputusan dengan ambiguitas/ketidakjelasan yang rendah dan cara berpikirnya yang rasional .

3.Gaya Analitis
adalah suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi terhadap ambiguitas/ketidakjelasan dan cara berpikirnya rasional.

4.Gaya Konseptual
adalah suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang tinggi untuk ambiquitas /ketidakjelasan dan cara berpikir intuitif yang tinggi juga.

5. Gaya Perilaku
adalah suatu gaya pengambilan keputusan dengan toleransi yang rendah untuk ambiquitas/ketidakjelasan dengan cara berpikir intuitif yang tinggi .





Daftar pustaka :
-          http://melkyat.blogspot.com/2013/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi_27.html
-          E-book

Rabu, 16 April 2014

kepemimpinan

TEORI DAN ARTI PENTING KEPEMIMPINAN

A. TEORI DAN ARTI PENTING KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepadapengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik seperti pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan pengajaran/instruksi.
TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN :
Teori kepemimpinan pada umumnya berusaha untuk memberikan penjelasan dan interpretasi mengenai pemimpin dan kepemimpinan dengan mengemukakan beberapa segi antara lain : Latar belakang sejarah pemimpin dan kepemimpinan Kepemimpinan muncul sejalan dengan peradaban manusia. Pemimpin dan kepemimpinan selalu diperlukan dalam setiap masa. Sebab-sebab munculnya pemimpin Ada beberapa sebab seseorang menjadi pemimpin, antara lain :
A.Seseorang ditakdirkan lahir untuk menjadi pemimpin. Seseorang menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan sendiri.

B.Seseorang menjadi pemimpin bila sejak lahir ia memiliki bakat kepemimpinan kemudian dikembangkan melalui pendidikan dan pengalaman serta sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Untuk mengenai persyaratan kepemimpinan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kewibawaan, lingkungan dan kemampuan.
1.Teori-teori dalam Kepemimpinan
A) Teori Sifat
Teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri-ciri yang dimiliki pemimpin itu. Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil, sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin. Dan kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat, perangai atau ciri-ciri di dalamnya.
Ciri-ciri ideal yang perlu dimiliki pemimpin menurut Sondang P Siagian (1994:75-76) adalah: – pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas, obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, orientasi masa depan; – sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif, kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif; – kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik, dan berkomunikasi secara efektif.
Walaupun teori sifat memiliki berbagai kelemahan (antara lain : terlalu bersifat deskriptif, tidak selalu ada relevansi antara sifat yang dianggap unggul dengan efektivitas kepemimpinan)
dianggap sebagai teori yang sudah kuno, namun apabila kita renungkan nilai-nilai moral dan akhlak yang terkandung didalamnya mengenai berbagai rumusan sifat, ciri atau perangai pemimpin; justru sangat diperlukan oleh kepemimpinan yang menerapkan prinsip keteladanan.
B) Teori Perilaku
Dasar pemikiran teori ini adalah kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Dalam hal ini, pemimpin mempunyai deskripsi perilaku:

- Perilaku seorang pemimpin yang cenderung mementingkan bawahan memiliki ciri ramah tamah,mau berkonsultasi, mendukung, membela, mendengarkan, menerima usul dan memikirkan kesejahteraan bawahan serta memperlakukannya setingkat dirinya. Di samping itu terdapat pula kecenderungan perilaku pemimpin yang lebih mementingkan tugas organisasi.

- Berorientasi kepada bawahan dan produksi perilaku pemimpin yang berorientasi kepada bawahan ditandai oleh penekanan pada hubungan atasan-bawahan, perhatian pribadi pemimpin pada pemuasan kebutuhan bawahan serta menerima perbedaan kepribadian, kemampuan dan perilaku bawahan. Sedangkan perilaku pemimpin yang berorientasi pada produksi memiliki kecenderungan penekanan pada segi teknis pekerjaan, pengutamaan penyelenggaraan dan penyelesaian tugas serta pencapaian tujuan. Pada sisi lain, perilaku pemimpin menurut model leadership continuum pada dasarnya ada dua yaitu berorientasi kepada pemimpin dan bawahan. Sedangkan berdasarkan model grafik kepemimpinan, perilaku setiap pemimpin dapat diukur melalui dua dimensi yaitu perhatiannya terhadap hasil/tugas dan terhadap bawahan/hubungan kerja. Kecenderungan perilaku pemimpin pada hakikatnya tidak dapat dilepaskan dari masalah fungsi dan gaya kepemimpinan (JAF.Stoner, 1978:442-443)
C) Teori Situasional
Keberhasilan seorang pemimpin menurut teori situasional ditentukan oleh ciri kepemimpinan dengan perilaku tertentu yang disesuaikan dengan tuntutan situasi kepemimpinan dan situasi organisasional yang dihadapi dengan memperhitungkan faktor waktu dan ruang. Faktor situasional yang berpengaruh terhadap gaya kepemimpinan tertentu menurut Sondang P. Siagian (1994:129) adalah
* Jenis pekerjaan dan kompleksitas tugas;
* Bentuk dan sifat teknologi yang digunakan;
* Persepsi, sikap dan gaya kepemimpinan;
* Norma yang dianut kelompok;
* Rentang kendali;
* Ancaman dari luar organisasi;
* Tingkat stress;
* Iklim yang terdapat dalam organisasi

B. TIPOLOGI KEPEMIMPINAN
Tipologi kepemimpinan disusun dengan titik tolak interaksi personal yang ada dalam kelompok . Tipe-tipe pemimpin dalam tipologi ini dapat dikelompokkan dalam kelompok tipe berdasarkan jenis-jenisnya antara lain:
1.Tipe Otokratis.
Seorang pemimpin yang otokratis ialah pemimpin yang memiliki kriteria atau ciri sebagai berikut: Menganggap organisasi sebagai pemilik pribadi, Mengidentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi, Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata, Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat, Terlalu tergantung kepada kekuasaan formalnya, Dalam tindakan pengge-rakkannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.
2.Tipe Militeristis
Perlu diperhatikan terlebih dahulu bahwa yang dimaksud dari seorang pemimpin tipe militerisme berbeda dengan seorang pemimpin organisasi militer. Seorang pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat berikut : Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang lebih sering dipergunakan, Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada pangkat dan jabatannya, Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan, Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan, Sukar menerima kritikan dari bawahannya, Menggemari upacara-upacara untuk berbagai keadaan.
3.Tipe Paternalistis.
Seorang pemimpin yang tergolong sebagai pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut : menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa, bersikap terlalu melindungi (overly protective), jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil inisiatif, jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya, dan sering bersikap maha tahu.
4.Tipe Karismatik.
Hingga sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seseorang pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, meskipun para pengikut itu sering pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu. Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supra natural powers). Kekayaan, umur, kesehatan, profil tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma. Gandhi bukanlah seorang yang kaya, Iskandar Zulkarnain bukanlah seorang yang fisik sehat, John F Kennedy adalah seorang pemimpin yang memiliki karisma meskipun umurnya masih muda pada waktu terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat. Mengenai profil, Gandhi tidak dapat digolongkan sebagai orang yang ‘ganteng”.

5.Tipe Demokratis.
Pengetahuan tentang kepemimpinan telah membuktikan bahwa tipe pemimpin yang demokratislah yang paling tepat untuk organisasi modern. Hal ini terjadi karena tipe kepemimpinan ini memiliki karakteristik sebagai berikut : dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah makhluk yang termulia di dunia, selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari pada bawahannya, senang menerima saran, pendapat, dan bahkan kritik dari bawahannya, selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha mencapai tujuan, ikhlas memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat kesalahan yang lain, selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya, dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
C.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPEMIMPINAN
Dalam melaksanakan tugas kepemimpinan mempengaruhi orang atau kelompok menuju tujuan tertentu, kita pemimpin, dipengaruhi oleh beberapa factor. Factor-faktor itu berasal dari diri kita sendiri, pandangan kita terhadap manusia, keadaan kelompok dan situasi waktu kepemimpina kita laksanakan. Orang yang memandang kepemimpinan sebagai status dan hak untuk mendapatkan fasilitas, uang, barang, jelas akan menunjukkan praktek kepemimpinan yang tidak sama dengan orang yang mengartikan kepemimpinan sebagai pelayanan kesejahteraan orang yang dipimpinnya. Factor-faktor yang berasal dari kita sendiri yang mempengaruhi kepemimpinan kita adalah pengertian kita tentang kepemimpinan, nilai atau hal yang kita kejar dalam kepemimpinan, cara kita menduduki tingkat pemimpin dan pengalaman yang kita miliki dalam bidang kepemimpinan.
D.IMPLIKASI MANAJERIAL KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
Sebab yang terjadi bila implikasi manajerial kepemimpinan dalam organisasi adalah akan menciptakan kepemimpinan yang baik karna adanya proses manajemen yang direncakan, karena induk dari sebuah perusahaan adalah pemimpin jadi bila pemimpin nya berkualitas maka perusahaan tersebut akan menjukukan kualitasnya.

Sejak dahulu kepemimpinan menjadi salah satu kajian yang menarik untuk di telaah secara mendalam, sebab arah peradaban suatu bangsa tak bisa lepas dari sebuah gaya kepemimpinan seseorang.
Namun tentu saja setiap proporsi kepemimpinan dari seorang pemimpin senantiasa berbeda-beda sebab itu semua bergantung pada bangunan epistemologis dan konstruk ideologisnya masing-masing.

Ada beberapa tipologi kepemimpinan yang sering kali kita temukan dalam gaya seorang pemimpin :

1. Gaya Otoriter/Totaliter yaitu gaya kepemimpinan yang selalu memaksakan kehendaknya pada setiap orang meskipun dengan jalan kekerasan, namun kebijakannya berlaku secara distributif dan tanpa kompromi. Gaya ini secara epistemologis cenderung beraliran Macchiavellian, Hobbesian.



2. Gaya Demokratis yaitu gaya kepemimpinan yang cenderung selalu menggunakan musyawarah, namun gaya ini sangat lemah mengambil sikap dalam setiap tindakannya dan terkesan pragmatik. Gaya ini secara epistemologis cenderung beraliran liberal-moderat.


3. Gaya para Nabi yaitu gaya kepemimpinan yang kharismatik dengan menggunakan jalan kemanusiaan, dalam arti lebih mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan, dibanding dengan kepentingan pragmatis. Gaya ini cenderung mengikuti aliran humanistik-teologis.

Dari beberapa tipologi kepemimpinan di atas, maka kita dapat memahami bangunan epistemologis dan konstruk ideologisnya melalui gaya kepemimpinan dari seorang pemimpin.
Dari hal tersebut di atas, maka kita dapat memahami pula bahwa tidak saya maupun anda, setiap pemimpin dapat kita ketahui bangunan ideologis maupun epistemologis melalui gaya kepemimpinan yang implementasikan.

Implikasi Manajerial dan Kepemimpinan dalam Organisasi


Dalam sebuah proses manajerial peran pemimpin sangat penting untuk mengatur tata pengoperasionalan organisasi. Pemimpin yang baik akan mengatur segala sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien, pemimpin yang baik juga akan disukai oleh bawahannya sehingga jika pemimpin membutuhkan kerjasama dari bawahannya mereka tidak akan segan untuk melakukan tugasnya masing-masing secara baik dan benar.
Kepemimpinan seseorang secara otomatis akan menggambarkan sebagian besar sifat pribadi orang tersebut, baiknya jadilah pemimpin yang disegani karena ilmu yang dia miliki dan bukan karena orang takut akan kekuatan yang dimiliki pemimpin tersebut.
Pimpinan memainkan peranan yang amat penting,bahkan dapat dikatakan amat menetukan,dalam usaha pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.memang benar bahwa pimpinan,baik secara individual maupun sebagai kelompok,tidak mungkin dapat bekerja sendirian.
Pimpinan membutuhkan sekelompok orang lain yang dengan istilah populer dikenal sebagai bawahan,yang digerakkan sedemikian rupa sehingga para bawahan itu memberikan pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi,terutama dalam cara bekerja yang efisien,efektif,ekonomis dan produktif.
seorang pimpinan tidak hanya mampu berperan selaku atasaan yang keinginan dan kemauannya harus diikuti oleh orang lain.memang benar bahwa setiap pimpinan adalah seorang “kepala”,dus seorang atasan dari sekelompok orang.namun penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa cara berpikir dan bertindak yang didasarkan atas kepemimpinan formal semata-mata tidak selalu menghasilkan kepemimpinan yang efektif.
Referensi :
buku organisasi,kepemimpinan dan perilaku administrasi oleh prof.DR.sondang P.siagian


Rabu, 19 Maret 2014

peran komunikasi dalam organisasi




Peran komunikasi dalam organisasi

Dalam kehidupan sosial sebagai manusia kita bisa selalu melakukan komunikasi oleh orang-orang yang berada disekitar kita.dalam interaksi tersebut memungkinkan manusia menyampaikan pemikirannya dan tidak dapat dihindarkan itu bisa membuat gagasan atau satu tujuan dengan manusia lainnya.maka dari itu betapa pentingnya peran komunikasi dalam organisasi untuk mewujudkan satu visi dan misi individu satu dengan individu lainnya.

Pengertian komunikasi dan arti penting komunikasi

          Komunikasi adalah suatu interaksi yang dilakukan lebih dari searah oleh setiap individu dalam sebuah organisasi atau perorangan.komunikasi dan petingnya komunikasi bagi sebuah organisasi sangat penting karena dengan adanya sebuah komunikasi setiap individu bisa saling bertukar sebuah informasi yang mereka dapatkan dari berbagai sumber,komunikasi itu sendiri bisa sangat berpengaruh didalam sebuah organisasi karena dengan adanya sebuah komunikasi kita bisa saling berhubungan.
          Arti penting komunikasi adalah untuk saling yang menarik yang ada hubungan kaitannya secara langsung dengan media ini ialah teori media yang berbentuk interaktif.interaktif yang dimaksud media yang berpotensi memberikan tindak balas kepada mereka yang sedang berkomunikasi.dalam konteks ini,markus(1990),mengutarakan dua perkara penting kepada kita berkaitan dengan media.pertamanya,faktor peluang universal,iaitu media yang berbentuk universal accsess yang bermaksud bahwa kedua-dua orang yang berbentuk dengan menggunakan saluran media yang sama.keduanya teknologi yang memiliki proses tindak balas.
Komunikasi merupakan salah satu aspek terpenting namun juga kompleks dalam kehidupan manusia.manusia sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang dilakukannya dengan manusia lain,baik yang sudah dikenal maupun yang tidak dikenal sama sekali.


jenis dan peran komunikasi
          Jenis komunikasi :
· Komunikator/pengirim/sender yaitu orang yang menyampaikan sebuah isi pernyataan kepada komunikan atau para pengkonsumsi sebuah informasi,dalam hal ini komunikator bertanggung jawab oleh informasi yang ia dapat
· Komunikan/penerima/receiver yaitu orang yang menerima sebuah isi pernyataan dari seorang komunikator/pengirim/sender dan si penerima pesan wajib mengerti maksud isi sebuah informasi dari sikomunikator.
         

Peran komunikasi
          Komunikasi memiliki peran yang sangat vital bagi kehidupan manusia,karena itu kita harus memberikan perhatian yang saksama terhadap komunikasi,khususnya teori komunikasi.
Jika anda ditanya,apakah komunikasi?apa yang terjadi jika sejumlah orang bertemu dan berinteraksi?ketika anda mencoba menjawab kedua pertanyaan itu makan sebenarnya anda tengah menyusun suatu teori organisasi.kedua pertanyaan itu tampaknya mudah bahkan orang awam yang bukan ahli pun dapat memberikan jawaban menurut sudut pandangnya.namun demikian,setiap orang akan menjawab kedua pertanyaan itu secara berbeda-beda.
          Walaupun orang telah mempelajari komunikasi sejak zaman purbakala,namun perhatian terhadap pentingnya komunikasi baru muncul belakangan yaitu pada awal abad ke-20.barnett paerce (1989) menyebutkan munculnya peran komunikasi sebagai “penemuan revolusioner”(revolutionary discover) yang sebagian besar disebabkan penemuan teknologi komunikasi seperti radio,televisi,telpon,satelit dan jaringan komputer.pada saat yang hampir bersamaan muncul dan berkembang industrialisasi,tumbuhnya korporasi multinasional dan politik global.
          Komunikasi efektif diibaratkan suatu political system dimana kekuasaan dibagi,pengaruh dijalankan,dan keputusan-keputusan dibuat.morgan juga menunjukkan bahwa organisasi adalah psychic prisons karena ia dapat membentuk dan membatasi kehidupan anggota-anggotanya,dan ia menegaskan bahwa organisasi dipahami sebagai transformation,karena menyukai dirinya,berubah dan tumbuh atas informasi umpan balik dan kekuatan logika.terakhir morgan mengatakan bahwa organisasi itu seperti instruments of domination,karena ia mengundang kepentingan yang bersaing,yang beberapa diantaranya mendominasi lainnya.
Saat ini ilmu komunikasi telah berkembang pesat dan minat untuk mempelajari ilmu komunikasi juga sudah sangat besar namun demikian ilmu komuniasi,pada umumnya merupakan ilmu yang multidisipliner.hal ini sekaligus menunjukkan kompleksitas ilmu komunikasi.dari segi teori,tidak  ada teori komunikasi yang betul-betul komprehensif.mencari teori komunikasi yang terbaik bukanlah tindakkan bermanfaat,karena ilmu komunikasi pada dasarnya mencakup lebih dari satu aktivitas.
Banyak para ahli yang mengakui bahwa komunikasi memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia,para ahli berasal dari berbagai disiplin ilmu seperti yang disebutkan diatas.mereka melihat komunikasi sebagai topik utama dalam setiap penelitian mereka.perhatian mereka yang intensif terhadap aspek komunikasi dibidang mereka masing-masing berhasil memunculkan ilmu komunikasi sebagai salah satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri.







Daftar pustaka :
-     Jurnal komunikasi,jilid 8 1992 (VOL.8 1992)
-     Buku teori organisasi individu hingga massa,KENCANA MORRISSAN Ph.D. bab 1 memahami teori organisasi
-     Buku beragam perspektif ilmu komunikasi,Dr.hasrullah,M.A.
-     Buku teori organisasi individu hingga massa,KENCANA MORRISSAN Ph.D. bab 1 memahami teori organisasi